Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil dengan Preeklamsia dan Asfiksia Neonatorum di Rumah Sakit Kota Malang
Abstract
ABSTRAK
Pendahuluan: Anemia, preeklamsia, dan asfiksia neonatorum menjadi kondisi klinis yang saling berkaitan melalui mekanisme gangguan oksigenasi jaringan. Anemia pada kehamilan menyebabkan penurunan pendistribusian (delivery) oksigen yang dapat memperberat kondisi hipoksia pada plasenta, sehingga berpotensi memicu disfungsi endotel pada preeklamsia serta membatasi cadangan oksigen janin yang berisiko menyebabkan asfiksia neonatorum. Analisis ini bertujuan mengkaji hubungan anemia antara ibu hamil terhadap risiko terjadinya preeklamsia dan asfiksia neo-natorum di RS Kota Malang.
Metode: Penelitian retrospektif berdesain case-control ini memanfaatkan data sekunder rekam medis periode januari 2020 sampai desember 2022. Teknik purposive sampling digunakan menjaring sampel (55 responden untuk analisis preeklamsia dan 9 responden asfiksia neonatorum) bersama kelompok kontrol seimbang. Kadar hemoglobin dikelompokkan ke dalam 4 strata keparahan (normal, ringan, sedang, berat). Hubungan antarvariabel diuji statistik menggunakan Chi-square via SPSS v22.0 pada tingkat signifikansi p < 0,05.
Hasil: Berdasarkan hasil analisis Chi-square, anemia pada ibu hamil tidak terbukti berpengaruh terhadap komplikasi preeklampsia ataupun asfiksia neonatorum, mengingat nilai p untuk kedua variabel tersebut berada di atas batas signifikansi (p >0,05).
Kesimpulan: Anemia pada kehamilan bukan menjadi faktor risiko utama terjadinya preeklamsia dan asfiksia neonatorum di Rumah Sakit (RS) Kota Malang.
Kata Kunci: Anemia; Ibu hamil; Preeklamsia; Asfiksia Neonatorum
Pendahuluan: Anemia, preeklamsia, dan asfiksia neonatorum menjadi kondisi klinis yang saling berkaitan melalui mekanisme gangguan oksigenasi jaringan. Anemia pada kehamilan menyebabkan penurunan pendistribusian (delivery) oksigen yang dapat memperberat kondisi hipoksia pada plasenta, sehingga berpotensi memicu disfungsi endotel pada preeklamsia serta membatasi cadangan oksigen janin yang berisiko menyebabkan asfiksia neonatorum. Analisis ini bertujuan mengkaji hubungan anemia antara ibu hamil terhadap risiko terjadinya preeklamsia dan asfiksia neo-natorum di RS Kota Malang.
Metode: Penelitian retrospektif berdesain case-control ini memanfaatkan data sekunder rekam medis periode januari 2020 sampai desember 2022. Teknik purposive sampling digunakan menjaring sampel (55 responden untuk analisis preeklamsia dan 9 responden asfiksia neonatorum) bersama kelompok kontrol seimbang. Kadar hemoglobin dikelompokkan ke dalam 4 strata keparahan (normal, ringan, sedang, berat). Hubungan antarvariabel diuji statistik menggunakan Chi-square via SPSS v22.0 pada tingkat signifikansi p < 0,05.
Hasil: Berdasarkan hasil analisis Chi-square, anemia pada ibu hamil tidak terbukti berpengaruh terhadap komplikasi preeklampsia ataupun asfiksia neonatorum, mengingat nilai p untuk kedua variabel tersebut berada di atas batas signifikansi (p >0,05).
Kesimpulan: Anemia pada kehamilan bukan menjadi faktor risiko utama terjadinya preeklamsia dan asfiksia neonatorum di Rumah Sakit (RS) Kota Malang.
Kata Kunci: Anemia; Ibu hamil; Preeklamsia; Asfiksia Neonatorum
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.
_-_Copy1.jpg)

