PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP JUMLAH NEKROSIS HEPATOSIT DAN KADAR SGOT SGPT PADA MODEL TIKUS WISTAR JANTAN

Azzahra Anggun Sholahina, Aris Rosidah, Yoyon Arif Martino

Abstract


ABSTRAK

Pendahuluan: Di antara berbagai jenis kopi yang beredar, kopi robusta (Coffea canephora) tercatat menyumbang sekitar 72,71% dari total produksi kopi nasional. Kandungan senyawa bioaktif di dalamnya, kafein, asam klorogenat, dan polifenol secara bersama-sama berpotensi meningkatkan beban kerja hepar melalui jalur metabolisme enzim sitokrom P450 (CYP1A2), yang pada akhirnya memicu pembentukan radikal bebas, stres oksidatif, dan kerusakan hepatosit. Studi ini disusun untuk mengkaji bagaimana frekuensi pemberian kopi memengaruhi derajat nekrosis serta kadar SGOT dan SGPT hepar pada tikus wistar jantan.

Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni dengan model post-test only control group. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan berumur 4–6 minggu dikelompokkan secara acak ke dalam empat kelompok (n=6 per kelompok): K0 diberi akuades, K1 diberi 150 mg/1,5 mL sekali sehari, K2 diberi 75 mg/1,5 mL dua kali sehari, dan K3 diberi 50 mg/1,5 mL tiga kali sehari, seluruhnya melalui sonde oral selama 30 hari berturut-turut. Tingkat nekrosis hepatosit dievaluasi secara histopatologis, sementara kadar SGOT dan SGPT ditentukan menggunakan metode enzimatik IFCC. Uji Shapiro-Wilk dan Levene's digunakan untuk memeriksa asumsi normalitas dan homogenitas varians sebelum dilanjutkan dengan One-Way ANOVA atau Welch ANOVA, serta uji lanjutan Post Hoc Tukey HSD atau Games-Howell sesuai kebutuhan (p<0,05).

Hasil dan Pembahasan: Seluruh kelompok perlakuan menunjukkan kenaikan rerata nekrosis hepatosit dibandingkan kontrol, dengan nilai berturut-turut K0 6,79±1,52; K1 16,10±0,69; K2 10,07±1,15; dan K3 28,43±2,24 (perbedaan antarkelompok bermakna, p<0,001). Kadar SGOT juga meningkat, dari 71,10±8,95 U/L pada K0 menjadi 149,92±4,29 U/L pada K3, demikian pula SGPT yang naik dari 19,04±4,37 U/L menjadi 53,55±5,86 U/L pada kelompok yang sama; kenaikan kedua parameter ini sejalan dengan bertambahnya frekuensi pemberian (p<0,001). Pola peningkatan nekrosis hepatosit yang beriringan dengan naiknya SGOT dan SGPT mengindikasikan terjadinya kerusakan struktural dan gangguan fungsional hepar akibat frekuensi pemberian kopi robusta yang lebih sering.

Simpulan: Frekuensi pemberian kopi robusta terbukti berpengaruh signifikan terhadap naiknya jumlah sel nekrotik serta kadar SGOT dan SGPT, sehingga mengindikasikan risiko hepatotoksik bila dikonsumsi dalam frekuensi tinggi secara berkelanjutan.

Kata Kunci: Kopi robusta; frekuensi konsumsi; SGOT/SGPT; hepatoseluler; tikus Wistar


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.