ICHHAFTIGKEIT DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Muhammad Bashori Muchsin

Abstract


Ichhaftigkeit is a term that represents selfishness and individualism. A person who prioritizes his own interests or places the interests of others not as his interests, can be classified as a group of human that justifies ichhaftigkeit. Human who puts themselves in this way are clearly contrary to the doctrine of Islam, because in Islamic teachings, each individual can be called as a useful human figure if his presence provides benefits to the others’ life. Such life is one of indicators that Islam is rahmatan lil-alamin. Keywords: Islam, self-interest, useful life
 
Ichhaftigkeit  merupakan istilah yang mewakili egoisme dan individualisme. Seseorang yang mengutamakan kepentingannya sendiri atau menempatkan kepentingan sesama  bukan sebagai kepentinan dirinya, dapat digolongkan sebagai golongan manusia yang membenarkan ichhaftigkeit.  Manusia yang menempatkan dirinya demikian ini jelas berlawanan dengan doktrin Islam, karena dalam ajaran Islam, setiap individu dapat disebut sebagai sosok manusia bermanfaat jika kehadirannya memberikan manfaat bagi kehidupan sesamanya. Hidup demikian menjadi salah satu indikator, bahwa Islam iu rahmatan lilalamin. Kata Kunci: Islam, kepentingan sendiri, hidup bermanfaat

Full Text:

PDF

References


Ahmad Azhar Basyir, 2003, Falsafah Ibadah dalam Islam, Yogyakarta: UII Press.

Ahmad Syafi’I Maarif, 2000, Masa Depan Bangsa dalam Taruhan, Yogyakarta: Pustaka SM.

Direktorat PembinaanPerguruan Tinggi Agama Islam Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 2000.

Halili, 2015, Membaca Islam dan Soekarno, Jakarta: Gema Pena.

Jalaluddin Rahmat, 1989, Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus, Bandung: Mizan

Subekti Bakri, 2013, Strategi Membentuk Manusia Indonesia Abad Globalisasi, Jakarta: LPKKI.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.