ANTIBIOFILM EKSTRAK ETANOL RIMPANG LENGKUAS PUTIH (Alpinia galanga L.,) DENGAN FRAKSI N-HEKSANA

Yunilla Aristawati, Citra Destya Rahma Putri, Rio Risandiansyah

Abstract


ABSTRAK

Pendahuluan: Infeksi nosokomial atau healthcare-associated infection (HAIs) terus meningkat terutama negara berkembang seperti Indonesia. Peningkatan HAIs dipengaruhi oleh adanya perlekatan bakteri pada alat medis yang bersifat invasif salah satunya oleh Staphylococcus aureus. Perlekatan dan kolonisasi dari Staphylococcus aureus akan menghasilkan biofilm. Adanya biofilm akan mempersulit terapi dan menjadi titik fokal infeksi. Maka perlu dikembangkan terapi yang menargetkan biofilm, salah satunya adalah rimpang lengkuas putih (Alpinia galanga). Indonesia kaya akan tanaman obat salah satunya lengkuas putih (Alpinia galanga) yang memilik berbagai senyawa bioaktif, namun potensinya sebagai antibiofilm dengan fraksi nonpolar n-heksana belum banyak diteliti.

Metode: Penelitian ini dilakukan secara in vitro sebagai eksperimen. Ekstraksi, maserasi, fraksinasi, pengujian fitokimia kualitatif, serta studi penghambatan dan penghancuran biofilm pada Staphylococcus aureus menggunakan pelat 96 sumur merupakan beberapa prosedur yang terlibat. Eksperimen penghambatan dilakukan sebelum pembentukan biofilm, dan ekstrak kencur diberikan pada konsentrasi 62,5 ppm, 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, dan 1000 ppm setelah 48 jam pertumbuhan bakteri.

Hasil: Zat bioaktif berupa terpenoid dan alkaloid ditemukan dalam pemeriksaan fitokimia ekstrak etanol rimpang lengkuas putih (Alpinia galanga L.) dengan fraksi n-heksana nonpolar. Sementara perlakuan lain menunjukkan efek substansial, perlakuan 500 ppm menunjukkan jumlah penghambatan tertinggi, dengan hasil yang tidak signifikan secara statistik dan berbeda secara signifikan dari kontrol negatif. Dengan semua persentase perlakuan di atas 50%, semua perlakuan menunjukkan hasil substansial untuk pemberantasan, dengan pengecualian kontrol negatif, yang menghasilkan hasil yang tidak signifikan. Hasil terbaik datang dari perlakuan tertentu, seperti pada 500 ppm dan 1000 ppm. Hasil dari DMSO 3% dalam terapi penghambatan berbeda secara nyata dari yang dari kontrol negatif. Hasil dari perlakuan pemberantasan dengan DMSO 3% tidak berbeda secara signifikan dari kelompok lain, tetapi mereka berbeda secara signifikan dari kontrol negatif.

Kesimpulan: Fraksi n-heksana ekstrak Alpinia galanga mengandung terpenoid dan steroid. Dosis perlakuan 500 ppm pada inhibisi merupakan hambatan tertinggi yaitu 27%. Pada eradikasi dosis 1000 ppm, efektif dalam penghancuran dengan nilai 65%.

Kata Kunci: Antibiofilm, Alpinia galanga, Staphylococcus aureus.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.