POTENSI ANTIBAKTERI PADA KULIT BATANG KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) BERDASARKAN PADA FRAKSI YANG DIGUNAKAN : STUDI ZOI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli
Abstract
ABSTRAK
Pendahuluan: Masalah kesehatan akibat infeksi bakteri dapat ditangani dengan mengembangkan antibakteri baru berbasis herbal. Kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii) terbukti menghambat bakteri Gram negatif maupun positif yang diperantarai oleh metabolit sekundernya yang dapat diisolasi melalui proses ekstraksi dan fraksinasi, namun belum diketahui fraksi mana yang paling baik menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental in vitro yang membandingkan zona hambat metode cakram pada ekstrak kasar etanol, fraksi n-Heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air kulit batang C. burmanni dosis 200×103 ppm pada bakteri S. aureus dan E. coli. Ekstraksi dan fraksinasi di uji metabolit sekundernya dengan skrining fitokimia secara kualitatif. Zona hambat dibandingkan dan di uji analisa Post-hoc Kruskall Wallis dengan p<0,05 dianggap signifikan.
Hasil: Zona hambat pada S.aureus secara berturut-turut 0,00±0,00 mm; 10,44±1,91 mm; 8,58±0,58 mm; dan 10,7±0,59 mm (p<0,05), sedangkan pada E.coli secara berturut-turut 0,00±0,00 mm; 13,55±5,55 mm; 22,06±1,61 mm; dan 0.00 ± 0,00 mm (p<0,05). Hasil Post-hoc Kruskall Wallis menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan penghambatan bakteri dipengaruhi oleh mekanisme antibakteri yang terdapat pada metabolit sekundernya.
Kesimpulan: Fraksi air kulit batang C. burmannii memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi pada S.aureus dan fraksi etil asetat kulit batang C. burmannii memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi pada E. coli.
Â
Kata Kunci: Cinnamommum burmannii, Ekstrak kasar etanol, Fraksinasi, Antibakteri
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.
_-_Copy1.jpg)

