HUBUNGAN PAPARAN BISING AKIBAT KERETA API TERHADAP TINITUS PADA PENDUDUK DI SEKITAR REL JODIPAN MALANG
Abstract
ABSTRAK
Pendahuluan: Tinitus sering terjadi pada individu yang terpapar bising tinggi dalam jangka waktu yang lama. Salah satu sumber bising berasal dari aktivitas kereta api. Di Indonesia banyak ditemukan permukiman penduduk dekat dengan rel kereta api. Menteri kesehatan menetapkan bising maksimal permukiman adalah 55 db, sedangkan pada penelitian sebelumnya mendapatkan hasil bising kereta api yang melebihi 55 db ketika melintasi permukiman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan bising kereta api dan jarak rumah penduduk dari rel kereta api terhadap keluhan tinitus.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Responden penelitian ini berjumlah 70 orang yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Responden terbagi menjadi 3 kelompok berdasarkan jarak rumah dari rel, yaitu kelompok dekat (radius 1-5 meter), kelompok menengah (radius 6-10 meter), dan kelompok jauh (radius 11-15 meter). Setiap kelompok akan dilakukan pengukuran tingkat kebisingan menggunakan sound level meter yang dibagi menjadi dua kelompok hasil, yaitu ≤55dB dan >55dB. Pengambilan data dilakukan dengan anamnesis dan Tinnitus Screener, pemeriksaan telinga dan tes penala pada responden. Responden yang mengalami tinitus akan mengisi Tinnitus Reaction Questionnaire. Analisis data menggunakan uji Chi-square.
Hasil: Pada uji Chi-square hubungan tingkat bising didapatkan nilai p 0.039 dan jarak rumah dengan nilai p 0.042 terhadap tinitus.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat bising dan jarak rumah penduduk dari rel kereta api terhadap tinitus
Â
Kata Kunci: Bising, Kereta Api, Permukiman Penduduk, Tinitus.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.
_-_Copy1.jpg)

