PERAN PEMERINTAH DESA SEBAGAI MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN KASUS SENGKETA TANAH (Studi Kasus di Desa Tirtomarto Kec. Ampelgading Kab. Malang)

Irma Kusumawati, Yandri Radhi Anadi, Abid Zamzami

Abstract


ABSTRACT

In this thesis, the author raises the issue of the Role ofVillage Government as a Mediator in Resolving Land Dispute Cases (Case Study in Tirtomarto Village, Ampelgading District, Malang Regency). Non-litigationdispute resolution, such as mediation, can be carried out by the village head as a way to fulfill his obligations. Regionalgovernments in areas where land disputes occur have an important role in acting as mediators. It is important forthem to take action to mediate the disputing parties. Basedon this background, the author raises the problemformulation as follows: 1. What is the process of resolvingland disputes by the village government as mediator inTirtomarto Village? 2. What is the legal force for resolving land disputes through mediation by the Tirtomarto Village Government? The approach used in this research is empirical juridical. The empirical juridical approach is aprocedure applied to solve research problems by firstconducting research on secondary data, which is thenfollowed by research on primary data in the field. Empiricaljuridical research is an approach to legal research thataims to observe the law in a real context and compare howthe law operates in society, and relate it to the reality oflegal protection for the parties involved in the process ofresolving land disputes through mediation. The results ofthis research show the following things: (1) Although theprocess of resolving land disputes by the villagegovernment as mediator has not been fully effective, the Village Head has succeeded in carrying out his functions and authority in accordance with Law Number 3 of 2024which is the second amendment to the Law Number 6 of2014 concerning Villages in Article 26 Paragraph 4 letter(l). (2) Dispute resolution carried out directly by the VillageHead does not have binding legal force, because normatively the village head is not the resolver of land disputes. Conflict resolution of land disputes is carried out by mediators, the official institution formed to resolve landdisputes is BPN (National Land Agency).

Keywords:Village Government, Mediator, Land Dispute

ABSTRAK

Pada skripsi ini, penulis mengangkat permasalahantentang Peran Pemerintah Desa Sebagai Mediator Dalam Penyelesaian Kasus Sengketa Tanah (Studi Kasus di Desa Tirtomarto Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang). Penyelesaian sengketa non-litigasi, seperti mediasi, dapatdilakukan oleh kepala desa sebagai salah satu cara untukmemenuhi kewajibannya. Pemerintah daerah di wilayah terjadinya sengketa pertanahan mempunyai peran pentingdalam bertindak sebagai mediator. Penting bagi merekauntuk mengambil tindakan dalam memediasi pihak-pihakyang bersengketa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengangkat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana proses penyelesaian sengketa tanah oleh pemerintah desa sebagai mediator di Desa Tirtomarto? 2. Bagaimana kekuatan hukum penyelesaian sengketa tanahmelalui mediasi oleh Pemerintah Desa Tirtomarto? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalahyuridis empiris. Pendekatan yuridis empiris merupakansuatu prosedur yang diterapkan untuk memecahkanpermasalahan penelitian dengan terlebih dahulu melakukanpenelitian terhadap data sekunder, yang kemudiandilanjutkan dengan penelitian terhadap data primer di lapangan. Penelitian yuridis empiris merupakan pendekatandalam penelitian hukum yang bertujuan untuk mengamatihukum dalam konteks yang nyata serta membandingkanbagaimana hukum beroperasi di dalam masyarakat, sertamengaitkannya dengan realitas perlindungan hukumterhadap pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian sengketa tanah melalui mediasi. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa hal berikut: (1) Meskipun proses penyelesaian sengketa tanah oleh pemerintah desa sebagai mediator belum sepenuhnyaefektif, Kepala Desa telah berhasil menjalankan fungsi dan wewenangnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 yang merupakan perubahan kedua atasUndang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada Pasal 26 Ayat 4 huruf (l). (2) Penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh Kepala Desa secara langsung tidak memilikikekuatan hukum yang mengikat, karena secara normatifkepala desa itu bukan sebagai penyelesai pembetuksengekta tanah. Konflik penyelesaian sengketa tanahdilakukan oleh mediator, lembaga resmi yang dibentukuntuk menyelesaikan sengketa tanah adalah BPN (Badan Pertanahan Nasional).

Kata Kunci: Pemerintah Desa, Mediator, Sengketa Tanah



Full Text:

PDF

References


Aiko, Donna & Harly. (2024). "Kewenangan Penyelesaian Sengketa Tatah di Desa oleh Kepala Desa (Studi Kasus di Desa Kiawa Kab. Minahasa)." Jurnal Fakultas Hukum UNSRAT.

Aji Wahyu Pambudi. (2020). “ Peranan Pemerintah Desa dalam Peneyelesaian Sengketa.” Jurnal Universitas Islam malang.

Annisa, Rahman & Qahar. (2024). "Peran Kepala Desa Dalam Menyelesaikan Masalah Sengketa Tanah Di Masyarakat." Journal of Lex Theory (JLT).

Dewi R. (2021). Peran Mediator Dalam Proses Mediasi : “Upaya Penyelesaiaan Perkara Perdata ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Pasuruan ).” MLJ Merdeka Law Journal.

Diyan Isneni. (2017). "Kebijakan Landerfom sebagai Penerapan Politik Pembaharuan Hukum Agraria yang Berparadigma Pancasila." Jurnal Ketahanan Pangan.

M. Rasyidi. (2020). "Peran Kepala Desa Sebagai Mediator Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah." Jurnal Fakuktas Hukum UIR.

Pamungkas B. A. (2019). “Pelaksanaan Otonomi Desa Pasca Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.” Jurnal USM Law Review.

Risnawati. (2023). "Efektivitas Peran Kepala Desa Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Non Litigasi Di Desa Kebon Manggu." Jurnal Universitas Nusa Putra.

Winda N.A., Sufirmna R. & Abdul Qahar. (2024). "Peran Kepala Desa Dalam Menyelesaikan Masalah Sengketa Tanah Di Masyarakat." Journal of Lex Theory (JLT).

Yandri Radhi Anadi. (2019). "Kekuatan Hukum Akta Buy Back Guarantee Dengan Kuasa Menjual Bagi Pihak Developer." Jurnal Hukum dan kenotariatan.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Powered by Open Journal System Developer(s): Public Knowledge Project