STUDI MOLECULAR DOCKING FITOKONSTITUEN EKSTRAK METANOL KULIT BUAH MATOA (Pometia pinnata) TERHADAP ANGIOTENSIN-CONVERTING ENZYME DAN RESEPTOR ANGIOTENSIN 2 TIPE 1 SEBAGAI ANTI-HIPERTENSI
Abstract
tekanan darah sistolik ≥130 mmHg atau diastolik ≥80 mmHg. Terapi ACEI dan ARB dapat menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif dengan risiko lebih rendah. Kulit buah matoa mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan fenolik yang berpotensi sebagai anti-hipertensi. Penelitian ini bertujuan memprediksi potensi tersebut melalui molecular docking terhadap Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) dan Reseptor Angiotensin II tipe 1 (AT1).
Metode: Fitokonstituen ekstrak metanol kulit buah matoa diperoleh dari metabolite profiling (LC-HRMS), diskrining (%Area >0,1%; Pa >0,5), lalu diprediksi sifat fisikokimia, farmakokinetik, dan toksisitasnya menggunakan pkCSM. Docking dilakukan terhadap ACE (PDB ID: 1O86) dan AT1 (PDB ID: 4ZUD) menggunakan PyRx 0.8, divalidasi dengan PyMOL. Penentuan konstanta inhibisi dihitung dengan rumus: Ki = exp(ΔG/RT). dan divisualisasikan dengan BIOVIA Discovery Studio 2021.
Hasil dan Pembahasan: Skrining menghasilkan 15 fitokonstituen; 9 di antaranya memenuhi aturan Lima Lipinski tanpa pelanggaran (6 sisanya masing-masing satu pelanggaran). Profil absorbsi, distribusi, dan ekskresi baik pada semua senyawa, meski beberapa memerlukan evaluasi lebih lanjut pada aspek metabolisme. Tidak ditemukan potensi hERG I inhibitor, AMES toxicity, maupun hepatotoksik, namun 3 senyawa perlu evaluasi lanjut untuk hERG II inhibitor. Tiga fitokonstituen dengan afinitas terbaik terhadap ACE adalah 1-Linoleoyl-2-Hydroxy-sn-glycero-3-PC, Dihydrouridine, dan 1-Stearoylglycerol; terhadap AT1 adalah 9-Oxo-10(E),12(E) octadecadienoic acid, Erucamide, dan Dihydrouridine.
Simpulan: Fitokonstituen kulit buah matoa menunjukkan afinitas terhadap ACE dan AT1 secara molecular docking sebagai anti-hipertensi, meskipun masih di bawah native ligand lisinopril dan olmesartan.
Kata Kunci: Anti-hipertensi, Hipertensi, Matoa, Molecular Docking
Metode: Fitokonstituen ekstrak metanol kulit buah matoa diperoleh dari metabolite profiling (LC-HRMS), diskrining (%Area >0,1%; Pa >0,5), lalu diprediksi sifat fisikokimia, farmakokinetik, dan toksisitasnya menggunakan pkCSM. Docking dilakukan terhadap ACE (PDB ID: 1O86) dan AT1 (PDB ID: 4ZUD) menggunakan PyRx 0.8, divalidasi dengan PyMOL. Penentuan konstanta inhibisi dihitung dengan rumus: Ki = exp(ΔG/RT). dan divisualisasikan dengan BIOVIA Discovery Studio 2021.
Hasil dan Pembahasan: Skrining menghasilkan 15 fitokonstituen; 9 di antaranya memenuhi aturan Lima Lipinski tanpa pelanggaran (6 sisanya masing-masing satu pelanggaran). Profil absorbsi, distribusi, dan ekskresi baik pada semua senyawa, meski beberapa memerlukan evaluasi lebih lanjut pada aspek metabolisme. Tidak ditemukan potensi hERG I inhibitor, AMES toxicity, maupun hepatotoksik, namun 3 senyawa perlu evaluasi lanjut untuk hERG II inhibitor. Tiga fitokonstituen dengan afinitas terbaik terhadap ACE adalah 1-Linoleoyl-2-Hydroxy-sn-glycero-3-PC, Dihydrouridine, dan 1-Stearoylglycerol; terhadap AT1 adalah 9-Oxo-10(E),12(E) octadecadienoic acid, Erucamide, dan Dihydrouridine.
Simpulan: Fitokonstituen kulit buah matoa menunjukkan afinitas terhadap ACE dan AT1 secara molecular docking sebagai anti-hipertensi, meskipun masih di bawah native ligand lisinopril dan olmesartan.
Kata Kunci: Anti-hipertensi, Hipertensi, Matoa, Molecular Docking
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.