PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI SURFAKTAN TWEEN 80 DENGAN KOSURFAKTAN PROPILENGLIKOL TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA MIKROEMULSI MINYAK JAHE (Zingiber Officinale)
Abstract
ABSTRAK
Pendahuluan: Minyak jahe (Zingiber officinale) mengandung berbagai metabolit
sekunder yang memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi. Minyak jahe dapat digunakan
dalam rute topikal sebagai antiinflamasi. Kelemahan minyak jahe yaitu mudah
menguap, sehingga dapat diformulasikan kedalam mikroemulsi. Mikroemulsi adalah
sistem dispersi cair stabil secara termodinamik dan memiliki kemampuan penetrasi
baik. Mikroemulsi tersusun dari minyak, surfaktan, kosurfaktan, dan air. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi tween 80 terhadap
karakteristik sediaan mikroemulsi.
Metode: Minyak jahe (Zingiber officinale) diformulasikan menggunakan metode
emulsifikasi spontan dengan konsentrasi surfaktan yaitu 4%, 5%, dan 6%. Masingmasing dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali replikasi. Kemudian, dilakukan
evaluasi fisik meliputi organoleptik berupa warna, bau, dan homogenitas, serta
evaluasi kimia berupa pengujian pH sediaan mikroemulsi. Analisa statistik pada
penelitian ini yaitu dengan menggunakan one-way ANOVA.
Hasil: Hasil pengamatan organoleptik pada formulasi menunjukkan semakin tinggi
variasi konsentrasi surfaktan maka kekeruhan mikroemulsi semakin keruh. Hasil
pengujian pH formulasi 1 (5,40 ±), formulasi 2 (5,28±), dan formulasi 3 (5,32±).
Nilai pH tersebut signifikan p<0,05 yang dimana memiliki perbedaan secara statistik.
Kesimpulan: Pada ketiga formulasi mikroemulsi memiliki karakteristik fisik dan
kimia yang berbeda, sehingga dapat disimbulkan bahwa perbedaan konsentrasi
surfaktan tween 80 berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia sediaan mikroemulsi.
Kata Kunci: Mikroemulsi; minyak jahe; surfaktan; kosurfaktan; sifat fisik dan kimia;
Pendahuluan: Minyak jahe (Zingiber officinale) mengandung berbagai metabolit
sekunder yang memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi. Minyak jahe dapat digunakan
dalam rute topikal sebagai antiinflamasi. Kelemahan minyak jahe yaitu mudah
menguap, sehingga dapat diformulasikan kedalam mikroemulsi. Mikroemulsi adalah
sistem dispersi cair stabil secara termodinamik dan memiliki kemampuan penetrasi
baik. Mikroemulsi tersusun dari minyak, surfaktan, kosurfaktan, dan air. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi tween 80 terhadap
karakteristik sediaan mikroemulsi.
Metode: Minyak jahe (Zingiber officinale) diformulasikan menggunakan metode
emulsifikasi spontan dengan konsentrasi surfaktan yaitu 4%, 5%, dan 6%. Masingmasing dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali replikasi. Kemudian, dilakukan
evaluasi fisik meliputi organoleptik berupa warna, bau, dan homogenitas, serta
evaluasi kimia berupa pengujian pH sediaan mikroemulsi. Analisa statistik pada
penelitian ini yaitu dengan menggunakan one-way ANOVA.
Hasil: Hasil pengamatan organoleptik pada formulasi menunjukkan semakin tinggi
variasi konsentrasi surfaktan maka kekeruhan mikroemulsi semakin keruh. Hasil
pengujian pH formulasi 1 (5,40 ±), formulasi 2 (5,28±), dan formulasi 3 (5,32±).
Nilai pH tersebut signifikan p<0,05 yang dimana memiliki perbedaan secara statistik.
Kesimpulan: Pada ketiga formulasi mikroemulsi memiliki karakteristik fisik dan
kimia yang berbeda, sehingga dapat disimbulkan bahwa perbedaan konsentrasi
surfaktan tween 80 berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia sediaan mikroemulsi.
Kata Kunci: Mikroemulsi; minyak jahe; surfaktan; kosurfaktan; sifat fisik dan kimia;
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.