EVALUASI OPERASIONAL BUS TRANS JATIM KORIDOR I MALANG RAYA BERDASARKAN LOAD FACTOR, ATP, WTP DAN BOK
Abstract
ABSTRACT
The Trans Jatim Bus Corridor I operates under a Buy The Service (BTS) scheme as a government-funded public transport initiative intervention to strengthen public transit connectivity across the Greater Malang region, East Java. However, post-operational assessments that simultaneously address operational performanceload and fiscal sustainability remain limited in the existing literature. This study examines operational performance through passenger load factor dynamics and evaluates fare adequacy by triangulating Ability to Pay (ATP), Willingness to Pay (WTP), and Vehicle Operating Cost (VOC). Data were gathered through systematic on-board observations and structured questionnaires administered to 100 commuters recruited via accidental sampling, analyzed using a quantitative descriptive framework. Results show that the overall mean load factor reached 102.00%, with weekday utilization at 87.43% and a surge to 116.57% during holiday and recreational peak periods, indicating intermittent overcapacity conditions. On the economic side, the prevailing fare of IDR 5,000 falls within the affordability threshold, as reflected by mean ATP and WTP values of IDR 5,975 and IDR 5,250, respectively. Nevertheless, the computed VOC of IDR 13,340.25 per passenger substantially exceeds the applied tariff, revealing a structural deficit between revenue collection and actual operational expenditure. These findings underscore that high ridership alone cannot ensure financial self-sufficiency in subsidized transit systems, and that sustained government subsidy constitutes the primary mechanism for maintaining long-term service viability. Practical recommendations include strategic fleet redistribution and timetable recalibration during peak-demand windows to balance service quality with passenger comfort.
Kata Kunci : Bus Trans Jatim, Load Factor, Ability to Pay, Willingness to Pay, Biaya Operasional Kendaraan.
ABSTRAK
Koridor I Trans Jatim beroperasi dengan skema Buy The Service (BTS) sebagai intervensi inisiatif transportasi publik yang didanai pemerintah untuk memperkuat konektivitas transportasi umum di wilayah Malang Raya, Jawa Timur. Namun, kajian pascaoperasional yang secara bersamaan membahas kinerja operasional dan keberlanjutan fiskal masih terbatas dalam literatur yang ada. Penelitian ini mengkaji kinerja operasional melalui dinamika load factor penumpang dan mengevaluasi kelayakan tarif dengan mentriangulasi Ability to Pay (ATP), Willingness to Pay (WTP), dan Biaya Operasional Kendaraan (BOK). Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung di dalam bus (on-board observation) secara sistematis dan kuesioner terstruktur yang diberikan kepada 100 penumpang yang direkrut melalui accidental sampling, kemudian dianalisis menggunakan kerangka deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata load factor keseluruhan mencapai 102,00%, dengan tingkat utilisasi pada hari kerja sebesar 87,43% dan meningkat tajam hingga 116,57% pada periode puncak liburan dan rekreasi, yang mengindikasikan kondisi kelebihan kapasitas (overcapacity) yang bersifat intermiten. Dari sisi ekonomi, tarif yang berlaku sebesar Rp5.000 masih berada dalam ambang batas keterjangkauan, sebagaimana tercermin dari nilai rata-rata ATP dan WTP masing-masing sebesar Rp5.975 dan Rp5.250. Meskipun demikian, BOK yang dihitung sebesar Rp13.340,25 per penumpang jauh melampaui tarif yang diterapkan, yang mengungkapkan adanya defisit struktural antara pendapatan yang diperoleh dan pengeluaran operasional aktual. Temuan ini menegaskan bahwa tingginya jumlah penumpang saja tidak dapat menjamin kemandirian finansial pada sistem transportasi publik yang disubsidi, dan bahwa keberlanjutan subsidi pemerintah merupakan mekanisme utama dalam menjaga keberlangsungan layanan dalam jangka panjang. Rekomendasi praktis yang diajukan meliputi redistribusi armada secara strategis dan penyesuaian jadwal keberangkatan pada periode permintaan puncak guna menyeimbangkan kualitas layanan dengan kenyamanan penumpang.
Catatan: pada bagian sumber, frasa "operational performanceload" tampaknya merupakan typo (kemungkinan "operational performance and passenger load"), jadi saya menerjemahkannya sesuai makna yang paling masuk akal ("kinerja operasional dan load factor penumpang"). Silakan dikonfirmasi apakah maksud aslinya sudah sesuai.
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Abu Bakar, M. F., et al. (2022). Service quality of bus performance in Asia: A systematic literature review. Sustainability, 14(13), 7998.
Ado, J., Nggarang, B., & Bunga, M. (2023). Operational performance evaluation of intercity bus services using load factor analysis. International Journal of Transportation Engineering, 12(2), 115–124.
Anggraini, R., et al. (2023). Kajian penentuan tarif Bus Trans Koetaradja berdasarkan ATP dan WTP. Media Komunikasi Teknik Sipil.
Ardila, F. A. D., Murtedjo, T., & Chayati, N. (2023). Studi penentuan tarif Buy The Service Transpakuan Koridor 6 metode ability to pay dan willingness to pay. Journal of Applied Civil Engineering and Infrastructure Technology.
Astuti, E. F., Sulistyorini, R., & Usman, K. (2024). Komparasi kemampuan dan kemauan membayar angkutan umum terhadap biaya operasional kendaraan. Jurnal Informasi Sains dan Teknologi.
Bakhtiar, A., Sulisto, H., & Abusini, S. (2014). Kajian efektivitas operasional Terminal Madyapuro Malang. Jurnal Rekayasa Sipil, 2(1).
Beria, P., Scholz, A., & Stathopoulos, A. (2021). Pricing and affordability in public transport systems: Balancing equity and financial sustainability. Transport Policy, 102, 1–9.
Cats, O., & Gkiotsalitis, K. (2021). Reliability assessment of urban bus services. Transport Reviews.
Dell'Olio, L., Ibeas, Á., & Cecín, P. (2021). Willingness to pay for improving public transport service quality. Transportation Research Part A: Policy and Practice, 144, 126–138.
Gado, A., Kota, I., Tan, V., & Gare, M. (2023). Evaluasi kinerja bus ekonomi rute Ende–Larantuka. Teknosiar, 17(2), 12–19.
Gerika, G. R., Marleno, R., & Muhammadun, H. (2025). Analysis of Suroboyo Bus tariffs based on ability to pay and willingness to pay. American Journal of Open Research.
Gkiotsalitis, K., & Cats, O. (2020). Improving service regularity for high-frequency bus services. Journal of Traffic and Transportation Engineering.
Hidayat, D. W., Oktopianto, Y., Ahmad, R., & Anindita, R. Y. (2022). Evaluasi kinerja dan jumlah armada angkutan umum pada Terminal Ubung Denpasar Utara. Jurnal Keselamatan Transportasi Jalan, 9(2).
Inayatillah, V. M., & Nugraha, W. T. (2023). Analisis tarif angkutan umum biaya operasional kendaraan (BOK) trayek Cianjur–Cipanas. Jurnal Momen Teknik Sipil. https://doi.org/10.35194/momen.v6i02.3649
Kalabo, F. D. H. A., Fahira, N., Risal, N. M., & Altarans, I. (2023). Analisis biaya operasional kendaraan (BOK) angkutan umum di Kota Tidore Kepulauan. DINTEK, 16(2), 108–117.
Kim, M., & Kim, E. (2023). Joint optimization of distance-based fares and headway for fixed-route bus operations. Sustainability, 15(21), 15352. https://doi.org/10.3390/su152115352
Lintang, N. F. F., Kadir, Y., & Tuloli, M. Y. (2022). Analisis penentuan tarif berdasarkan BOK, ATP dan WTP Trans BRT Koridor I Provinsi Gorontalo. Composite Journal.
Litman, T. (2023). Evaluating public transportation benefits and costs. Victoria Transport Policy Institute.
Nugroho, F., Ingsih, I. S., & Saefudin, R. (2026). Studi evaluasi kinerja dan tarif angkutan umum berdasarkan biaya operasional kendaraan ability to pay dan willingness to pay (Studi kasus PO. Bagong trayek Malang-Kediri). Jurnal Rekayasa Sipil, 16(1), 10–17.
Refbacks
- There are currently no refbacks.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)